hari itu di jalan ibu kota jakarta yang ramai penduduk..
aku bertemu seorang pengamen kecil, yang menjajahi suaranya yang amat seadanya..
dengan menggunakan seragam sekolah, dia melompat dari satu bus ke bus lainnya..
membagikan amplop surat yang telah di bagi dua, dengan harapan ada beberapa penumpang dari bus kota yang merasa iba dan menyisihkan sedikit uangnya untuk di berikan kepadanya dengan ikhlas..
perlahan ku dekati anak itu..
dan ku tanya, mengapa dia tidak sekolah dan malah mengamen di jalan..
anak itu menjawab dengan rasa malu sedikit takut..
"aku masuk siang kak, aku sudah biasa mengamen sebelum aku ke sekolah"
aku bertanya kembali padanya, kenapa dia harus mencari uang dengan cara seperti ini dengan usianya yang masih sangat kecil..
anak itu menjawab, kali ini dengan nada yang sedikit lebih percaya diri..
"aku mencari uang untuk sekolah kak, aku tidak mau jadi seperti ayah. dia tidak dapat bekerja karena dia tidak punya ijaza sekolah kak. aku mau sekolah dan jadi orang sukses, agar aku bisa bahagiain ayah dan ibu ku kak."
sekilas terlintas rasa bangga di hati ku, karena di antara banyaknya pemalas di kota ini.. masih ada anak-anak yang berfikir tentang masa depannya..
hari berikutnya di tangga penyebrangan jalan..
aku melihat seorang tua yang amat renta, duduk di pinggir anak tangga..
menadahkan tangan meminta-minta..
lalu di pinggir jalan, seorang tua renta menawarkan diri membersihkan sepatu orang-orang yang lewat di hadapannya dengan bayaran Rp.5000,00 untuk sepasang sepatu..
miris hati ku melihat perihnya kehidupan di kota ku..
mereka para lansia yang seharusnya saat ini mereka bisa menikmati hari tuanya, malah harus bekerja banting tulang siang dan malam hanya untuk sesuap nasi..
kadang terlintas keinginan untuk merubah kota kelahiran ku ini, menjadi kota yang indah dan makmur..
namun apa daya ku, aku saat ini bukanlah siapa-siapa..
tapi aku tau, bila aku rajin belajar dan sukses kelak..
mungkin aku bisa mengubah kota ku tercinta ini, menjadi seperti yang aku impikan.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar